Wilujeng Sumping...

Aduh, makasih banget udah mau dateng di blog sederhana ini. Jujur aja, ini blog yang seumur-umur baru gue buat. Jadi, kalo ada salah-salah kate, plis deh dimaapin. Harapan gue, elo betah dan balik lagi.

Gue janji untuk ke depannya (sampe akhir 2009), blog ini gue seriusin dan ada buku2 (bikinan gue tentunya) yang siap gue bagiin bagi yang mau atau bersedia ngebantu gue.

Sekali lagi: makasih, makasih, makasih...
Showing posts with label Artikel-artikel Menulis Buku. Show all posts
Showing posts with label Artikel-artikel Menulis Buku. Show all posts

Monday, March 23, 2009

Bertarung Teenlit - Sampai Kapan?

Oleh: Lisa Kunto
(dikutip dari Bukune.com)


Meggin Patricia Cabot, atau yang dikenal dengan nama pena Meg Cabot, membuka milenium baru dengan menerbitkan sebuah novel untuk remaja, The Princess Diaries. Novel tersebut sangat digandrungi oleh remaja putri sehingga tak lama setelah diterbitkan, Disney memutuskan untuk mengangkat kisah Mia Thermopolis, gadis Manhattan yang ternyata seorang putri kerajaan kecil Genovia, ke layar perak. April 2001, film dengan judul yang sama diputar di bioskop-bioskop seluruh Amerika. Akting Anne Hattaway sebagai Mia dan Julie Andrews sebagai Ratu Genovia, memukau remaja di seluruh Amerika dan dunia, termasuk Indonesia. Sukses film itu membawa serta buku seri The Princess Diaries ke seluruh dunia. Setahun berselang, penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU) menerbitkan novel terjemahan The Princess Diaries pertama.

Ternyata pembaca Indonesia menyambut buku tersebut. Juga buku-buku sejenis lainnya yang dikenal dengan istilah teenlit atau teen literature.

Prediksi Penerbit terhadap Buku Remaja

Walaupun penerbit dirisaukan oleh perilaku pasar di Indonesia yang sangat dipengaruhi oleh tren, mereka tetap optimistis bahwa pangsa remaja tetaplah sangat potensial untuk digarap. Teenlit bakalan tetap menjadi bacaan primadona untuk tahun ini, dan bahkan mereka yakin, untuk tahun depan. Menjadi tugas penerbit untuk membaca geseran-geseran tren yang terjadi di masyarakat.

Ariobimo Nusantara, pemimpin redaksi Grasindo, mengakui terjadinya penurunan jumlah penjualan. Tapi ia merasa yakin kalau minat remaja terhadap buku tidak akan surut. “Penurunan terjadi bukan karena permintaan berkurang. Melainkan karena saat ini, banyak pemain yang masuk ke pasar yang sama,” katany. Oleh karena itu para penerbit berlomba-lomba untuk menciptakan tren-tren baru pada bacaan teenlit. Kuncinya adalah inovasi: entah dari segi cover, ilustrasi, syukur-syukur isi. Ini diperlukan untuk mempertahankan minat pembaca remaja terhadap fiksi.

Hetih Rusli, redaksi Garmedia Pustaka Utama berkomentar, “Pembaca remaja kita tidak setia pada penulis teenlit dari dalam negeri. Sedangkan untuk penulis teenlit luar, mereka setia sekali. Kita ambil contoh: apapun buku Meg Cabot terbitan GPU, pasti laku di pasaran. Dan dinantikan. Sedangkan penulis kami yang sudah menerbitkan beberapa judul teenlit, belum mendapat reaksi yang sama dari pasar.”

Hanya Remaja Cewek?

Bahwa teenlit tetap menjadi bacaan primadona tahun ini, menciptakan sebuah pertanyaan tersendiri: apakah benar teenlit adalah bacaan remaja secara umum? Dilihat dari segi ceritanya, teenlit seolah-olah hanya menyediakan bacaan untuk remaja putri saja. Sedangkan remaja putra sepertinya tidak menjadi pertimbangan penerbit untuk menerbitkan bacaan untuk putra. Keinginan penerbit adalah bisa merangkul keduanya. Faktanya, sebagian besar penulis teenlit adalah perempuan; pembaca remaja laki-laki lebih menyukai buku-buku yang memiliki banyak visual; dan pembeli buku terbanyak, berdasarkan laporan dari toko buku, juga remaja perempuan. Komentar “Entah ada apa dengan cowok,” dilontarkan oleh Sitok Srengenge, pemimpin redaksi KataKita, dan Jumanta, manajer produksi dan visual Puspa Swara.

Sebenarnya semua penerbit memberikan kebebasan seluas-luasnya bagi penulis untuk melakukan eksplorasi tema dan gaya bercerita. Mereka menginginkan naskah-naskah dengan lebih banyak variasi agar dapat menjangkau lebih banyak pembaca. Seperti naskah komedi yang cerdas sekaligus lucu.

Selama ini, penulis memang memasukkan kelucuan dalam naskah mereka. Tapi pada akhirnya, naskah yang diterima kebanyakan bertema percintaan. Novel yang benar-benar komedi sedikit sekali jumlahnya. Dari penerbit-penerbit nara sumber, hanya: Jomblo (GagasMedia), 5 cm (Grasindo), dan Hey Conchita (KataKita).Soal gaya bahasa, seperti kita lihat sendiri, novel-novel teenlit ini menggunakan gaya bahasa pop. Bahasa yang digunakan remaja dalam keseharian mereka. Menurut Heti, GPU mematok standar, setidaknya, walaupun itu bahasa gaul seremeh gue-lu, ejaannya harus tetap mengacu pada Kamus Bahasa Indonesia. Begitu juga pengakuan GagasMedia. “Kami di GagasMedia selalu mengacu pada Bahasa Indonesia yang baik dan benar untuk urusan tata bahasa. Kalau dialek, kami terbuka,” jelas Windy Ariesta, staff redaksi GagasMedia.Nama Besar Penulis?Pembaca tidak setia pada penulis. Pengakuan ini sudah didapat dari penerbit maupun beberapa pembaca remaja yang diwawancara oleh Read. Pada kenyataannya, penerbit pun tidak memprioritaskan nama penulis. Kamu bisa lihat sendiri, sesuai dengan pernyataan penerbit, hampir 80% buku yang ada di pasaran di tulis oleh penulis baru. “Terrant Books selalu mengutamakan keunikan tema cerita dan gaya penulisannya. Banyak penerbit yang mencantumkan besar-besar nama penulis karena ia sudah terkenal,” jelas Azis, “padahal secara kualitas cerita maupun teknik penyampaiannya sudah tidak bagus lagi. Malah karya penulis-penulis baru kadang-kadang jauh lebih bagus.

Best Seller

Sitok Srengenge bersikukuh bahwa sebuah label best seller seharusnya diberikan oleh institusi outsource yang melakukan riset pasar secara independen. Kendati demikian, setiap penerbit memiliki ukurannya sendiri untuk buku best seller mereka.Penerbit KataKita sendiri: 1) Nothing But Love. Novel tersebut memiliki plot berbeda dari buku remaja kebanyakan. Menawarkan pengalaman metafiksi. 2) Hey Concita. Menawarkan never ending komedi dalam ceritanya.Penerbit Puspa Swara: My Cousin is Gay dan My first Triangle Love. Menurut redaksi, karena judul buku unik dan secara langsung mengkomunikasikan ceritanya.Penerbit Terrant Books: Pesan dari Bintang karya Sitta Karina. Kelebihan dari novel tersebut adalah gaya penulisan, tema yang sangat menarik dan dilengkapi ilustrasi yang cantik. Namun belum mengalahkan kesuksesan Nia Arundita, Eiffel I’m in Love.Penerbit Grasindo: Karya-karya Cyntia Surentu. Pacarku Selebriti, Kos ‘Full Color’ dan Keren Bukan Jaminan.Gramedia: Belanglicious, Miss Cupid, dan Dua Pasang Mata. Selain temanya bagus dan dibawakan dengan baik, novel-novel ini dikemas sesuai dengan selera pembaca remaja.GagasMedia: Jomblo sudah mencapai cetakan ke-17. Guruku Keren, Amore, dan Kalau Cinta Ngomong Dong.Dalam 1-3 bulan pertama biasanya sudah dapat dilihat perputarannya: Apakah penerbit sudah menerima pemesanan tambahan dari toko buku. Seberapa cepat habis di pasar. Dan, seberapa cepat cetakan kedua dari waktu cetak pertamakali. Tapi, cetak ulang itu bukan berarti stok habis!


Friday, March 20, 2009

Nulis Buku Novel - Let's start it....

Gue demen banget kalo nulis novel yang diawali dengan ketegangan atau komedi (kalo mau bikin yang ngocol) yang meledak-ledak. Biasanya kalo begitu, kelanjutannya bakal mulus banget.

Saat bagian di bawah ini gue tulis, gue masih belum tau mau diapain cerita ini lanjutannya. Pokoknya nulis terus. Ini bukan metode baru, NO! Asmaraman Kho Ping Hoo ngelakuin dari kapan tau. Dan gue ngekorin. Liat aja.

Yang kelintas di kepala gue saat ini ialah: cerita tentang persahabatan antara 2 cowok dengan latar belakang yang jelas-jelas berbeda. Silahkan liat di label 'Friends Forever.'

Let the story begins.......


****

Mau Nulis Buku atau Novel?


Membuat buku atau novel memang sudah pasti akan membutuhkan energi dan waktu yang lebih banyak dibandingkan membuat tulisan pendek seperti cerpen, opini atau artikel.
I. BUKU PANDUAN
Buku yang dimaksud disini adalah buku panduan atau non fiksi. Sampai saat ini baru satu judul buku yang pernah Penulis buat. Dan berkaca dari pengalaman maka untuk membuat buku kategori ini, kita perlu dibekali pengetahuan yang memadai demi menjaga kualitas/konten buku tersebut. Untuk sementara Penulis tidak banyak berdiskusi untuk topik ini.
II. NOVEL
Khusus untuk novel, secara garis besar yang perlu dilakukan adalah:
* Langkah pertama: mencari/mendapatkan ide
* Langkah kedua: ide dikembangkan menjadi sinopsis. Di tahap ini kita juga sudah harus menentukan karakteristik para tokohnya.
* Langkah ketiga: sinopsis dikembangkan menjadi storyline
* Langkah keempat: storyline dikembangkan menjadi draft awal
* Langkah kelima: draft awal disempurnakan untuk menjadi draft akhir

TIPS:
Dalam membuat novel ada begitu banyak hal yang perlu diperhatikan. Beberapa di antaranya:
1. Perombakan nama tokoh, tempat, serta lokasi kejadian, dan bahkan struktur cerita, masih diperbolehkan hingga tahap pembuatan storyline. Setelah memasuki draft awal, semua itu ditabukan.
2. Momok paling menentukan adalah kebuntuan. Deadlock. Tapi selama semangat menulis tetap membara dan selalu berdoa minta kepinteran sama Yang Maha Kuasa, percayalah, deadlock hanyalah kerikil kecil yang dengan mudah kita cemplungin ke got.
3. Metode pembuatan sinopsis 3 babak bukan metode baku. Penulis bisa membuat dengan format lain. Kendati demikian, sinopsis 3 babak merupakan pola yang paling banyak dipakai dalam pembuatan sebuah cerita berdurasi panjang.
4. Hindari tokoh atau kejadian yang mendadak muncul di tengah cerita dan akibat berdampak bahwa kemunculannya 'maksain.' Jika hal itu mau dilakukan, perlu ada 'tabungan informasi' di awal cerita.
5. Hati-hati dengan pemberian nama tokoh. Kemunculan tokoh (bukan tokoh utama) yang diberi nama, harus punya tujuan. Entah dengan cara akan muncul lagi di bagian berikut, atau akan memberi unsur kejutan bagi pembaca. Nama tokoh yang terlalu banyak akan membuat pembaca dibingungkan.

Kita akan praktek langsung dalam pertemuan-pertemuan berikutnya.

Stay tune!
Marthino Andries
Penulis 10 novel, 1 buku panduan, beberapa skenario komedi-situasi, cerpen, artikel, drama dan opini.

Thursday, March 19, 2009

There's book inside you!


Ungkapan diatas itu bukan datang dari saya. Tapi saya menyadari kedahsyatan pernyataan penuh motivasi demikian.

Banyak orang yang ingin sekali menerbitkan buku sendiri. Mereka belajar sedemikian rupa dan menghabiskan waktu, tenaga serta dana yang tidak sedikit. Banyak sekali yang gagal, beberapa orang sukses luar biasa dan tidak sedikit pula yang hanya mencapai tahap 'bisa membuat naskah' tanpa mengalami kesuksesan yang signifikan - secara finansial tentunya.

Ada berbagai kendala mengapa itu terjadi. Namun pada kesempatan kali ini ada satu hal yang saya ingin singgung, yaitu: talenta.

Ya, jangan sekali-kali menganggap enteng dengan talenta atau bakat. Di buku saya "Bikin Novel Ngocol Yuk?" saya dengan tegas menyatakan bahwa hanya yang memiliki bakat saja yang bisa mencapai keberhasilan. Banyak motivator penulis buku yang, menurut saya, tidak fair. Dalam rangka mendongkrak penjualan buku tentang teknik menulis (cerpen, skenario, drama, novel, atau apapun) mereka mengatakan bahwa semua orang tanpa kecuali bisa menjadi penulis asalkan mereka punya kemauan dahsyat buat belajar. Ungkapan ini berbahaya dan tentu saja akan menimbulkan kekecewaan mendalam bagi mereka yang terlanjung berkorban segalanya. Pada akhirnya mereka akan mendapati bahwa mereka ternyata tidak sanggup menjadi penulis sesuai cita-cita mereka.

Belajar menulis atau mengarang tidak cukup dilakukan dengan modal semangat. Namun belajar tanpa semangat membara kendati memiliki segudang talenta pun tidak banyak artinya. Sudah terlalu banyak orang-orang bertalenta besar yang saya temui dan saya ajak untuk menjadi penulis namun dengan berbagai alasan mereka lebih suka untuk menjadi sekedar pembaca - dan penonton. Jika demikian, apakah seseorang yang tidak memiliki talenta tidak dapat melanjutkan impian untuk menjadi seorang penulis?
Jawabannya adalah: KOLABORASI.
Saya sangat yakin bahwa kendati seseorang tidak memiliki talenta besar dalam menulis sebuah buku secara utuh dari awal hingga akhir, ia tetap dapat cukup 'bertalenta' untuk menjadi pencetus ide cerita atau dalam bentuk sinopsis. Kalau talenta itu lebih besar, ia bisa menjadi pembuat storyline/alur cerita. Dan kalau ia bertalenta kuat, barulah ia bisa menjadi pembuat Draft atau buku secara utuh.

Secara garis besar tahap pembuatan buku atau novel adalah:
a. ide
b. sinopsis (plus karakteristik tokoh) c. storyline d. draft, yaitu: draft awal dan draft akhir

Mungkin talenta kita hanya hingga tahap 'c' atau 'b' dan bahkan 'a' saja. Namun, ada sesuatu tentang ide yang perlu kita ketahui bersama. Tahukah anda bahwa untuk sebuah ide, selama itu cukup 'gila' untuk dijadikan sebuah buku, tetap akan ada orang yang mau membelinya! Ingat cerita tentang meteor menghunjam bumi? Saat ide itu terlontar, entah siapa yang membocorkan terlebih dulu, pada akhirnya dua buah studio film Holywood berkejaran dengan waktu untuk menyelesaikan karya film mereka. Pada akhirnya "Deep Impact" dan "Armageddon" dirilis hanya dalam selisih waktu beberapa hari saja.

So, tertarik untuk menulis buku? Saya ajak Anda untuk mengikuti Blog ini karena Saya akan mencoba membantu sekuat tenaga. Saya berharap Anda, rekan2 Anda, kita semua, bisa berkolaborasi untuk menghasilkan sebuah karya tulis yang cukup oke di mata seorang redaksi yang kemudian meng-oke-kan juga buku terbitan Anda. Kalau pun toh ternyata hanya Saya sendiri, it's gonna be okay. Karena itu juga memperkaya kemampuan saya.
Harapan saya blog ini bisa mencerahkan. Baik untuk Anda maupun untuk saya sendiri.

Wassalam,
Marthino Andries

Artikel-artikel Menulis Buku

Powered By Blogger